Ad Sastrapantura
Scroll untuk Lanjut Membaca

SANG PEMAHAT

Foto hanya ilustrasi sosok Guru Gus Zaim/Zuhdi/Sastrapantura

Sang Pemahat

Sajak Untuk seluruh guru di Negeri huhuhaha

​Tuan dan Puan yang budiman,

Mari kita heningkan cipta sejenak. Bukan untuk pahlawan yang gugur di medan perang, tapi untuk matinya akal sehat di ruang-ruang kelas kita.

​Dulu, sekolah adalah Bengkel.

Guru adalah montir yang berhak mengetuk, mengelas, dan meluruskan besi yang bengkok agar menjadi mesin yang presisi. Besi itu mungkin panas, mungkin sakit saat ditempa, tapi ia kelak menjadi baja yang kokoh

​Kini, sekolah telah berubah menjadi Galeri Kaca.

Murid-murid adalah vas kristal yang rapuh, yang diletakkan di atas pedestal emas bernama "Hak Asasi".

Kami, para guru, hanyalah penjaga museum yang ditugaskan membersihkan debu, tapi diharamkan menyentuh barangnya.

​Paradoks Sang Dokter Bedah

Bayangkan Tuan, kami diminta menjadi dokter bedah.

Masyarakat berteriak: "Sembuhkan tumor kebodohan itu! Buang kanker ketidaksopanan itu!"

Tapi di saat yang sama, tangan kami diikat aturan. Pisau bedah kami (kedisiplinan) dirampas dan dibuang ke tong sampah.

"Jangan buat pasien kesakitan! Jangan ada goresan!" teriak mereka.

​Lantas, bagaimana cara mengangkat penyakit tanpa membedah daging?

Bagaimana cara meluruskan tulang tanpa rasa nyeri?

Di situlah letak komedi tragisnya: Kami dituntut mencetak Malaikat, tapi dilarang memotong sayap Setan yang mulai tumbuh di punggung mereka.

​Seni Membimbing dalam Diam

Maka, jangan salahkan jika kelak lahir generasi guru-guru sufi.

Guru yang telah mencapai tingkat makrifat tertinggi: Masa Bodoh.

​Kami akan mengajar seperti patung lilin.

Tersenyum indah, tapi tak bernyawa.

​Anak Tuan merokok? Kami akan anggap itu asap dupa aromaterapi.

​Anak Tuan memaki? Kami akan anggap itu puisi kontemporer yang eksotis.

​Anak Tuan berkelahi? Kami akan anggap itu latihan tarian kolosal.

​Kenapa?

Karena di negeri ini, menegur adalah dosa, dan membiarkan adalah ibadah.

Kami lebih memilih pulang membawa gaji utuh untuk anak istri, daripada pulang membawa surat panggilan polisi demi menyelamatkan anak Tuan.

​Selamat Menikmati Panen

Jadi, silakan Tuan dan Puan lanjutkan pesta pora perlindungan yang kebablasan ini.

Lindungi terus "Raja-Raja Kecil" itu dari segala bentuk ketidaknyamanan.

​Tapi ingat satu hal:

Waktu adalah hakim yang paling kejam.

Kelak, saat "vas-vas kristal" itu pecah berkeping-keping dihantam kerasnya kehidupan nyata, jangan cari kami.

Karena saat itu, kami sudah berhenti menjadi Pemahat. Kami hanyalah penonton di pinggir jalan, yang tersenyum pahit melihat Tuan menuai apa yang Tuan tanam.

Penulis: Zuhdi Amin

Gresik, 25 November 2025

Baca Juga
Posting Komentar