![]() |
| Kepala Disparecrafbudpora drg. Syaifuddin Ghozali bersama Gus Roin dan Bupati Gresik Gus Yani (Sastrapantura/admin) |
SASTRAPANTURA,GRESIK - Menyulam kreasi di tepian bengawan, sebuah pengabdian yang berbuah apresiasi. Di tengah riuh gelombang zaman, ada komunitas yang setia merajut benang-benang budaya di tepian Bengawan Solo. Dengan kesabaran seorang Budayawan menyemai bibit karya, mereka menumbuhkan kesenian bukan sekadar untuk tontonan, melainkan untuk napas kehidupan. Komunitas Kotaseger Indonesia dari Gresik itu akhirnya menuai hasil manis dari ketekunan tersebut.
Buah kesetiaan itu diwujudkan dalam bentuk penghargaan apresiasi dari Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani atau yang akrab disapa Gus Yani. Penghargaan ini diberikan dalam ranah ekonomi kreatif, khususnya kategori seni pertunjukan. Sebanyak kurang lebih 26 kelompok lainnya juga turut diakui kontribusinya dalam gelaran tersebut.Adapun kelompok lain yang mendapat penghargaan serupa yakni : Gresik Movie diwakili Irfan Akbar, Rumah Damar kurung diwakili oleh Anhar, Sanggar Tari Nyai Ageng Pinatih : Bu Lusi, Minuman Legend Tren, kelompok Cager,Jazz in Gresik dan beberapa kelompok lainnya.
Penghargaan ini menjadi penanda bahwa kerja budaya yang tulus tidak pernah sia-sia. Ia adalah mata air yang meski mengalir pelan, mampu menghidupi tanah dan jiwa di sekitarnya. Apresiasi ini bukan garis akhir, melainkan sebuah titik terang dalam perjalanan panjang merawat identitas.
“Setiap gerak laku pertunjukan yang kami sajikan adalah doa untuk bumi Gresik ini,” ujar Gus Roin, Pendiri Komunitas Kotaseger Indonesia yang mewakili penerimaan penghargaan.
Ia melanjutkan dengan nada syukur yang dalam, “Penghargaan ini adalah pengingat bahwa jalan yang kami tempuh, meski berliku, memiliki arti. Ini adalah energi baru untuk terus berkarya, bukan untuk kami sendiri, tetapi untuk masyarakat dan warisan leluhur,” ungkapnya.
Acara Apresiasi Pelaku Ekonomi Kreatif yang digelar Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, serta Ekonomi Kreatif (DISPARECRAF) Kabupaten Gresik itu berlangsung khidmat. Bertempat di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik pada 19 Desember 2025, ruang itu dipenuhi oleh denyut nadi para pegiat seni.
Dari Gresik untuk Nusantara: Visi Spiritual Komunitas Kotaseger di Panggung Ekonomi Kreatif
Bagi Komunitas Kotaseger, seni pertunjukan adalah medium spiritual untuk merawat ingatan kolektif. Setiap pementasan adalah upaya menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang hampir tergerus. Mereka percaya, di balik gerak dan suara, tersimpan kekuatan untuk menyembuhkan dan mempersatukan.
Gus Roin, sang budayawan asal Sidayu, telah menanamkan filosofi ini sejak awal berdirinya komunitas. Kini, filosofi itu tidak hanya bergema di tingkat lokal, tetapi juga mendapat legitimasi melalui apresiasi pemerintah daerah. Ini membuktikan bahwa ekonomi kreatif bisa berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai substansial.
“Ekonomi kreatif dalam perspektif kami bukan semata-mata urusan rupiah saja. Ia adalah ekosistem dimana kebudayaan bisa hidup, bernapas, dan memberi nutrisi bagi generasi penerus,” imbuh Gus Roin dengan mata berbinar.
“Ketika seni dihayati sebagai bagian dari ibadah sosial, maka keberlangsungannya akan dijaga oleh semesta. Penghargaan ini adalah salah satu bentuk jawaban dari semesta atas kesungguhan kami,” tambahnya.
Penyelenggaraan acara di GNI Gresik sendiri sarat dengan simbolisme. Gedung yang menjadi penanda perjuangan nasional itu seakan menyiratkan pesan bahwa perjuangan budaya adalah bagian dari cita-cita kemerdekaan. Di sanalah, para pelaku ekonomi kreatif diajak untuk terus bergerak dengan semangat kebangsaan yang inklusif.
![]() |
| Foto bersama seniman, budayawan, pemerintahan saat acara penghargaan di GNI (Sastrapantura/admin) |
Merajut Masa Depan: Apresiasi sebagai Tonggak Baru Perjalanan Budaya.
Apresiasi dari Bupati Gus Yani ini diharapkan menjadi pemantik bagi kelompok seni lainnya. Semangat untuk terus berkarya dengan integritas dan keunikan lokal harus tetap dijaga. Sebab, kekuatan ekonomi kreatif Indonesia justru terletak pada keragaman ekspresinya yang autentik.
Komunitas Kotaseger Indonesia telah menunjukkan bahwa autentisitas bukan halangan untuk maju. Justru, jati diri budaya yang kuat itulah yang menjadi daya tarik dan nilai jual utama. Mereka membangun pasar dengan tetap berpegang pada akar, sebuah keseimbangan yang sulit namun mulia.
“Kami ingin anak-anak muda melihat bahwa berkesenian adalah jalan hidup yang mulia dan menjanjikan. Bukan hanya jiwa yang kaya, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan lahiriah secara layak,” tutur Gus Roin.
“Masa depan kebudayaan kita ada di tangan para kreator yang berani berbeda namun tetap rendah hati. Ini adalah awal dari babak baru, dimana seni pertunjukan menjadi salah satu pilar kemajuan daerah,” paparnya.
Perjalanan Komunitas Kotaseger Indonesia, dari Gresik ke panggung apresiasi pemerintahan adalah kisah tentang ketekunan. Mereka adalah bukti bahwa dalam setiap detak jantung Gresik, selalu ada ruang untuk puisi, teater, tari, dan lagu. Ruang itu kini diakui bukan hanya sebagai pewarna, tetapi sebagai penopang peradaban.Beberapa Produksi pementasan dan pertunjukan Kotaseger antara lain :
Risalah 7 bukit.
- Tiang Debu.
- Reso dan Yono
- Kinthir (Perapian Gerwarase)
- Angon Angin.
Pencapaian ini diharapkan mampu menginspirasi lahirnya lebih banyak lagi komunitas serupa. Gelombang kreativitas dari berbagai penjuru daerah akan membentuk orkestrasi Indonesia yang megah. Pada akhirnya, penghargaan ini adalah tentang pengakuan bahwa seni adalah nafas yang membuat suatu bangsa tetap hidup dan bermartabat.
Penulis: Zuhdi Amin

