![]() |
| Para pemateri jalasastra Kotaseger/Zuhdi/Sastrapantura |
SASTRAPANTURA, GRESIK.-Di bawah naungan pohon asem jawa yang rindang, hembusan angin Telaga Rambit membawa bisikan masa lalu dan harapan untuk masa depan. Pada Sabtu, 24 Januari 2026, komunitas Kotaseger Indonesia menggelar Jalasastra kelima, sebuah ritual sastra yang mengajak peserta menyelami harmoni alam dan budaya. Tempat terbuka di halaman telaga itu menjadi ruang kuliah tak berdinding, tempat setiap daun yang bergerak adalah halaman buku yang terbuka.
Acara bertajuk “Residensi Telaga Rambit dalam Puisi dan Cerpen” ini merupakan tindaklanjut khidmah budaya sebelumnya, merajut kembali ikatan antara manusia, cerita, dan tanah kelahirannya. Siang itu, pukul 13.00 hingga 17.00 WIB, sejuknya telaga menawarkan keteduhan fisik sekaligus kedalaman batin bagi sekitar 28 peserta dari berbagai kalangan. Dari pelajar SD hingga guru, mereka berkumpul untuk menangkap ‘rasa’ Telaga Rambit dan menuliskannya dalam aksara.
Merengkuh Inspirasi dari Kearifan Lokal Telaga Rambit
![]() |
| Suasana saat acara berlangsung/Zuhdi/Sastrapantura |
Kegiatan dibuka secara khidmat oleh Ketua Umum Komunitas Kotaseger Indonesia, Ki Afif Kalimosodo, yang menegaskan misi kegiatan ini. Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Ketua Panitia, Rikwan Rifa’i, serta Pembina Komunitas, Ubaidillah, yang menyemangati para peserta. Ruang terbuka tersebut sengaja dipilih agar proses kreatif para peserta bisa menyatu langsung dengan denyut nadi alam Telaga Rambit.
“Khidmah Budaya sebelumnya telah memberikan kita peta naratif tentang telaga ini, baik yang kasatmata maupun yang tersembunyi dalam ingatan kolektif,” papar Fatikhudin, seniman Pantura, sebagai pemateri pertama.
Pemaparan dilanjutkan oleh Dian Iskandar, pemuda pemerhati lingkungan Telaga Rambit, yang membedah ruang lingkup telaga dari perspektif ekologi dan spiritualitas. Pengetahuan mendalam tentang alam beserta kisah-kisah spiritual yang mengitarinya menjadi fondasi penting sebelum menulis.
“Memahami Telaga Rambit berarti menyelami dua lapis realitas: yang empiris, seperti flora dan faunanya, dan yang imajinal, yaitu mitos serta nilai spiritual yang hidup di dalamnya,” ungkapnya.
Pemateri ketiga, Mamluatul Hamidah, seorang guru bahasa Indonesia dan pembina teater, memberikan bekal teoritis dan teknis penulisan. Ia membimbing peserta untuk mengolah kesan dan data yang telah didapat menjadi karya sastra yang utuh dan berbobot.
Proses Residensi: Ketika Rasa Dituangkan dalam Aksara
Setelah mendapat pencerahan dari para narasumber, para peserta kemudian menyebar untuk melakukan residensi langsung di sekitar kawasan Telaga Rambit. Selama dua setengah jam, mereka menyendiri, mengamati, merasakan, dan membiarkan suasana telaga meresap ke dalam kesadaran. Harmoni alam yang sunyi namun sarat cerita itu kemudian dicari bentuk bahasanya.
Mereka berpencar, duduk di tepian, atau berdiri di bawah pepohonan, mencoba menangkap esensi tempat tersebut. Proses kontemplatif ini merupakan jantung dari Jalasastra, di mana pengalaman personal diubah menjadi material kreatif yang otentik. Karya yang lahir diharapkan bukan sekadar deskripsi, tetapi esensi yang telah menyatu dengan perasaan penulisnya.
Setelah waktu residensi usai, para peserta kembali ke titik kumpul untuk berbagi hasil karya. Panitia mengumpulkan semua tulisan, lalu secara acak meminta beberapa peserta maju untuk membacakan puisi atau cerpen mereka. Suara-suara muda itu bergantian mengudara, membacakan puisi dan prosa yang terinspirasi dari telaga.
Salah satu karya terpilih adalah puisi berjudul “Telaga Dalam Aksara” karya Naura Walidah, yang secara puitis merefleksikan ketenangan dan kebijakan telaga. Puisi tersebut menggambarkan telaga sebagai cermin sunyi yang menyimpan cerita tanpa kata, sebuah ruang di mana luka dan harap belajar bicara melalui kesederhanaan alam.
“Di Sidayu, kata-kata belajar makna. Dalam diam yang tumbuh sederhana,” bunyi salah satu bait puisi tersebut.
Mengukir Kenangan dan Melangkah ke Panggung Teater
Acara kemudian ditutup dengan pertunjukan seni yang menghanyutkan, berupa monolog oleh Kang Pandu dan musikalisasi puisi oleh Dimasraya. Pertunjukan ini menjadi penanda berakhirnya proses kreatif siang itu, namun sekaligus pembuka untuk interpretasi baru. Suasana haru dan kebersamaan menyelimuti prosesi penutupan.
Tepat pukul 17.20 WIB, kegiatan diakhiri dengan foto bersama, mengabadikan murah senyum dan semangat kebersamaan seluruh peserta dan panitia. Semua karya yang terkumpul dari residensi ini rencananya akan dibukukan menjadi sebuah antologi puisi dan cerpen. Antologi tersebut akan menjadi dokumen penting dan bentuk apresiasi terhadap kekayaan Telaga Rambit.
“Karya-karya ini bukan akhir, melainkan gambaran awal menuju kegiatan puncak kami, yaitu pementasan teater yang akan memuat nilai historis-spiritual dan harmoni Telaga Rambit,” tambah Rikwan Rifa’i.
Komunitas Kotaseger Indonesia, melalui serangkaian kegiatan ini, konsisten menjadi jembatan antara kearifan lokal dengan ekspresi seni kontemporer. Mereka percaya bahwa nilai-nilai luhur dari tempat seperti Telaga Rambit perlu diaktualisasikan agar tetap relevan dan hidup dalam ingatan generasi sekarang. Jalasastra bukan sekadar workshop, melainkan sebuah upaya merawat ingatan kolektif melalui kuasa kata dan kesetiaan pada tempat.
“Kami mencoba menjadi perantara, agar suara telaga yang bisu itu bisa didengar melalui gegap gempita panggung dan keheningan aksara,” pungkas Ki Afif Kalimosodo menutup kegiatan.
Penulis : Miftahul Ulum Kotaseger

