Ad Sastrapantura
Scroll untuk Lanjut Membaca

Teater Roda UNISDA Lamongan, Merawat Kesadaran dalam Tiga Dekade Perjalanan

Foto bersama keluarga besar teater Roda/Demong/Sastrapantura

Sastrapantura, Lamongan - Di tengah hembusan angin penghujung tahun, sebuah lingkaran makna kembali terajut dalam hangatnya silaturahmi. Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Roda Universitas Islam Darul ’Ulum (UNISDA) Lamongan telah menggenapkan perjalanan penuh warna selama 29 tahun. Dengan tema “Lingkaran Kesadaran, Menuju Ruang Kesempurnaan”, perayaan diesnatalis ke-XXIX itu menjadi lebih dari sekadar seremoni belaka.

Acara yang digelar pada Kamis, 25 Desember 2025 tersebut, menjelma menjadi ruang refleksi bagi seluruh keluarga besar teater kampus tertua di Lamongan itu. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa perjalanan seni selalu berangkat dari titik kesadaran untuk kemudian bergerak melingkar mendekati keutuhan. Suasana haru dan kebanggaan mewarnai setiap detik pertemuan itu, menyatukan generasi dari masa lalu, kini, dan masa depan.

Kini, Teater Roda tidak lagi sekadar nama, melainkan sebuah ekosistem budaya yang terus bernafas. Wadah ini telah menjadi tanah subur bagi ribuan mahasiswa untuk menemukan identitas dan suara mereka melalui seni pertunjukan. Perayaan 29 tahun ini adalah bukti nyata ketahanan dan komitmen untuk tetap setia pada jalur pencarian artistik dan spiritual.

Khazanah 29 Tahun: Dari Al-Qur’an hingga Monologi yang Menyentuh

Rangkaian acara dibuka dengan sebuah ikhtiar spiritual yang mendalam, yaitu Khotmil Quran. Ritual ini menjadi fondasi rasa syukur atas panjang usia dan konsistensi kelompok teater ini dalam menjaga marwah seni yang penuh kesadaran. Setelah doa-doa dipanjatkan, panggung pun mulai bernyawa dengan berbagai sajian yang sarat makna. Malam itu terasa sakral, menjadi ruang bersama untuk menengok ke belakang sekaligus menerawang ke depan.

Pertunjukan pembuka, Tari “Sorote Lingtang” oleh NDAMADU, menyiratkan metafora perjalanan panjang mencari cahaya. Gerakan lembut namun penuh daya itu seolah melukiskan perjalanan Teater Roda dalam menjelajahi relung-relung kehidupan. Kolaborasi kata dan nada kemudian hadir dalam Musikalisasi Puisi, menciptakan harmoni yang mampu menyentuh relung hati paling dalam. Selanjutnya, Pemutaran Film Dokumenter mengajak semua hadirin menyusuri lorong waktu, mengenang jejak-jejak perjuangan, solidaritas, dan kerja keras yang tak pernah padam sejak masa awal.

“Film ini adalah cermin bagi kami semua, untuk tidak melupakan akar dan setiap langkah yang pernah diinjakkan,” ungkap salah satu alumni yang hadir.

Pertunjukan monolog "Sri" dan tari pembukaan acara/Demong/Sastrapantura

Sebagai puncak acara, sebuah Monolog “Sri” yang ditulis oleh Febry Jaya W. dan disutradarai oleh Demong Kero-kero berhasil menyihir seluruh penonton. Kisah tentang ketahanan seorang wanita dalam menghadapi tantangan hidup itu dibawakan dengan penuh penghayatan. Monolog tersebut menjadi renungan kolektif tentang makna harapan dan keindahan dalam kesederhanaan yang sering terlupakan.

“Karya ini lahir dari pengamatan akan keteguhan hati di sekitar kita. ‘Sri’ adalah simbol dari setiap pergulatan batin yang berujung pada penerangan,” papar Demong Kero-kero selaku sutradara.

Silaturahmi Seniman: Kehangatan Reuni dan Restu Sang Pendiri

Suasana hangat kian terasa dengan kehadiran para alumni yang datang dari berbagai penjuru. Mereka bukan sekadar tamu undangan, melainkan bagian hidup dari sejarah panjang Teater Roda yang terus bertumbuh. Dukungan juga mengalir dari teman-teman kelompok teater kampus se-Jawa Timur, yang memperkuat ikatan persaudaraan dalam dunia seni pertunjukan. Malam itu benar-benar menjadi festival silaturahmi yang merawat jaringan dan semangat kebersamaan.

Momen paling dinantikan adalah kehadiran Dr. Sutardi, S.S., M.Pd., yang akrab disapa Abah Sutardi RM., salah satu pendiri Teater Roda. Kehadirannya bagai oase yang mengingatkan kembali pada sumber mata air awal perjalanan ini. Pesan-pesan bijaknya menjadi pengingat tentang integritas dan kejujuran dalam proses berkarya, nilai yang kadang tergerus oleh zaman.

“Berkaryalah dengan kesadaran penuh dan kejujuran hati. Teater adalah medium menemukan diri, bukan sekadar pamer keindahan semu,” tuturnya dengan khidmat.

Pesan tersebut menyiratkan bahwa kesadaran artistik harus berpadu dengan kesalehan spiritual. Nasihat dari sang pendiri menjadi kompas bagi generasi sekarang untuk terus melangkah di jalan yang benar. Restu dari beliau adalah energi yang menguatkan komitmen Teater Roda untuk tetap konsisten pada jalurnya.

Tumpeng Kebersamaan: Simbol Komitmen Menjaga Api Kesenian

Sebagai penanda rasa syukur dan ikrar kebersamaan, acara ditutup dengan ritual pemotongan tumpeng. Prosesi sederhana ini dilakukan oleh ketua umum Teater Roda periode kini, didampingi oleh perwakilan alumni dan sang pendiri. Tumpeng yang disajikan bukan hanya hidangan, melainkan simbol harapan agar perjalanan ini terus tumbuh subur dan memberikan manfaat. Setiap lapisan nasi kuning yang dipotong menyimpan doa untuk kesinambungan gerak dan cipta.

Ritual ini menegaskan bahwa Teater Roda akan terus beraksi menjaga semangat, merawat kesadaran, dan memupuk cinta pada seni teater. Potongan tumpeng itu adalah metafora dari pembagian tanggung jawab dan keberkahan kepada semua yang terlibat. Momen penutup yang khidmat ini meninggalkan kesan mendalam tentang arti sebuah komunitas yang bertahan melintasi zaman.

“Inilah bentuk komitmen kami. Tumpeng ini adalah janji untuk terus menjaga api teater tetap menyala, menghangatkan dan menerangi,” pungkas Ketua Umum Teater Roda periode 2025.

Rumah bagi Pencarian Diri: Makna Lebih dari Sekadar UKM

Perayaan Diesnatalis ke-29 ini dengan jelas menunjukkan bahwa Teater Roda UNISDA Lamongan telah melampaui definisi sebuah unit kegiatan mahasiswa biasa. Wadah ini telah bertransformasi menjadi ruang belajar kehidupan yang holistik, tempat para mahasiswa tidak hanya belajar akting, tetapi juga merenungi eksistensi diri. Sebagai kelompok teater kampus tertua di Lamongan, tanggung jawab moral untuk menjaga tradisi dan inovasi seni semakin besar.

Keberadaannya bagai rumah bagi jiwa-jiwa yang haus akan ekspresi dan makna. Di bawah naungan UNISDA, Teater Roda berhasil menciptakan simbiosis yang indah antara nilai-nilai keislaman dan kebebasan berekspresi artistik. Tiga puluh tahun hampir terlampaui, namun semangat untuk terus belajar, berkarya, dan menginspirasi tak pernah luntur. Lingkaran kesadaran itu terus meluas, membuka ruang-ruang baru menuju kesempurnaan yang mungkin tak pernah selesai, namun selalu layak untuk diperjuangkan.

Penulis: Demong Kero-kero

Baca Juga
Posting Komentar