![]() |
| Foto diambil saat penyair mendapatkan ide menulis/Zuhdi/sastrapantura |
Lihatlah aku, rumah diam yang kau huni
Bukan sekadar daging yang lembap dan fana
Bukan sekadar darah yang berdesir resah
Aku adalah struktur, geometri suci
Perancah kokoh yang membuatmu berdiri
Saat dunia mengguncang, aku yang pertama menahan
Aku adalah arsitektur bisu tubuhmu
Dua ratus enam batang, aku dirajut
Bukan sekadar tiang, melainkan orkestra
Tulang hasta yang setia memutar telapak
Tulang pengumpil yang membisikkan arah
Ruas jemari yang lentik menulis puisi
Tempurung lutut yang bertekuk saat kau sujud
Dan tulang ekor, rahasia kecil yang mengingatkan
Dari ekor yang hilang, kau tumbuh menjadi manusia
Tendon, ligamen, rawan—perekat yang sabar
Mengikat agar kita tak tercerai-berai
Dalam tarian sunyi yang kau sebut gerak
Di balik tempurung rusuk, yang melengkung seperti sangkar
Jantung menjalankan ritme dendam dan cintanya
Paru-paru mengembang, mengempis, percaya diri
Mereka tak pernah tahu, mereka dilindungi
Oleh tulang-tulang yang rela menjadi penjara
Agar kehidupan bisa terus berpesta
Dan jauh di dalam, di inti yang paling rahasia
Sumsum merahku bekerja tanpa henti
Mencetak sel-sel darah, tentara-tentara merah
Yang berperang setiap hari melawan luka dan mati
Penulis : Zuhdi Amin
