![]() |
| Foto hanya ilustrasi dari aktifitas manusia/zuhdi/sastrapantura |
Jangan kau panggil aku budak. Jangan kau sebut aku mesin.
Aku adalah jutaan benang yang merenda gerak.
Tiga rupa dalam satu kesetiaan: rangka, jantung, polos.
Tiga cara mencinta dalam sunyi.
Aku yang melekat pada tulang, enam ratus lebih jumlahku.
Lihat, ketika kau mengangkat tangan pada yang kau rindu,
Akulah yang menarik, menegang, lalu mengendur.
Akulah yang membuat jarimu menari di atas keyboard
Saat kau menulis surat cinta di larut malam.
Akulah yang menopang langkahmu
Pulang ke rumah setelah dunia memukulmu.
Kau menyebutnya gerak. Aku menyebutnya pengabdian.
Namun jangan sombong. Bukan kau yang mengendalikan semua.
Dengar, di dalam dadamu, aku menabuh genderang tanpa henti.
Otot jantung, namaku. Aku bekerja tanpa perlu kau perintah.
Sejak kau masih berupa segumpal darah di rahim ibu,
Hingga nanti saat kau terbujur diam dan tak bisa lagi berkata,
Aku akan tetap memompa, memompa, memompa.
Seperti orang bodoh yang setia pada janji yang tak pernah diucapkan.
Kau tidur, aku terjaga. Kau bermimpi, aku bekerja.
Kau lupa bersyukur, aku tetap berdenyut.
Dan jauh di dalam, di wilayah yang tak pernah kau lihat,
Di usus yang mencerna makanan, di pembuluh yang mengalirkan darah,
Di kandung kemih yang menahan rasa, di saluran napas yang membuka jalan bagi udara,
Aku ada. Otot polos. Lembut, tapi tak kenal lelah.
Aku bekerja seperti ibu yang merapikan rumah
Saat anak-anaknya sudah terlelap.
Tak ada yang melihat. Tak ada yang memuji.
Tapi tanpaku, kau takkan bisa menelan, bernapas, atau sekadar bertahan.
Namun, dengarkanlah. Aku punya gugatan.
Kepada sains yang membedaku menjadi tiga.
Kepada buku-buku yang meringkasku dalam diagram.
Kalian lupa satu hal: aku sakit.
Aku kram saat kau terlalu memaksa.
Aku kejang saat kau terlalu cemas.
Aku lemah saat kau tak lagi punya harapan.
Aku menagih hubungan timbal balik yang adil.
Kau boleh menyebutku otonom. Tapi aku tetap butuh kasih sayang.
Di era ketika tubuh diperlakukan seperti mesin,
Ketika kesehatan direduksi menjadi angka dan grafik,
Aku ingin kau tahu: setiap kedipan matamu adalah aku.
Setiap debar jantungmu saat bertemu kekasih adalah aku.
Setiap sesenggukanmu di pelukan ibu adalah aku.
Setiap desah napas terakhirmu nanti, juga aku.
Maka rawatlah aku dengan gerak yang sadar.
Beri aku air, beri aku istirahat, beri aku sentuhan.
Karena aku bukan sekadar jaringan di bawah mikroskop.
Aku adalah denyut yang membuatmu hidup.
Aku adalah cinta yang tak pernah tidur.
Aku adalah otot-ototmu. Dan aku mencintaimu
Lebih dari kau mencintai dirimu sendiri.
Gresik, 23 Februari 2026
Analisis Puisi karya Zuhdi Amin, Mendalami berbagai Kritik terhadap Mekanisasi Tubuh dalam Narasi Ilmiah
Puisi "Otot yang Tak Pernah Tidur" Karya Zuhdi Amin menawarkan sebuah keberanian epistimologis dengan membongkar cara pandang sains modern yang cenderung mereduksi sistem otot menjadi sekadar objek kategoris. Dalam diskursus biologi konvensional, otot dipilah-pilah: otot rangka sebagai alat gerak sadar, otot jantung dan polos sebagai instrumen otonom yang bekerja di luar kesadaran. Puisi ini dengan tegas menolak fragmentasi tersebut, tidak dengan menyangkal taksonominya, melainkan dengan memanusiakannya. Personifikasi yang digunakan bukan sekadar gaya bahasa, melainkan sebuah strategi filosofis untuk mengembalikan subjektivitas pada tubuh yang selama ini dibungkam oleh rasionalisme ilmiah.
Argumen kritis yang diajukan puisi ini terletak pada gugatan terhadap dikotomi sadar-tak sadar dan hubungan kuasa antara manusia dan tubuhnya. Ketika otot polos berbicara, "Kalian lupa satu hal: aku sakit," ia sedang mengkritik kecenderungan sains untuk melihat sistem otonom sebagai entitas mekanis yang tak punya hubungan timbal balik dengan kesadaran. Padahal, dalam realitas klinis, kecemasan (psikis) dapat memicu kejang otot (fisik). Puisi ini mempertanyakan: apakah pantas menyebut otot jantung sebagai "otonom" jika ia bisa hancur oleh patah hati? Apakah adil menganggap otot polos sebagai "bekerja sendiri" jika stres bisa mengacaukan sistem pencernaan?
Di sinilah letak relevansi kontekstualnya. Di era post-pandemi, ketika kesadaran akan kesehatan mental mulai mengemuka, puisi ini menjadi pengingat bahwa tubuh bukanlah mesin Cartesian yang terpisah dari jiwa. Stres, trauma, dan kebahagiaan tidak hanya "dirasakan" di kepala, tetapi juga di setiap serabut otot. Otot rangka yang tegang karena tekanan pekerjaan, otot jantung yang berdebar karena kecemasan sosial, otot polos yang bermasalah karena depresi—semuanya adalah bukti bahwa sistem otonom pun responsif terhadap luka-luka eksistensial.
Lebih jauh, puisi ini menawarkan etika baru dalam memperlakukan tubuh: reciprocal care. Jika selama ini kita menganggap otot bekerja untuk kita, puisi ini membalik logika itu. Kita juga harus bekerja untuk otot. Memberinya istirahat, gerak, air, dan yang paling penting—kesadaran. Dengan nada yang mengharukan di akhir, "Aku mencintaimu lebih dari kau mencintai dirimu sendiri," otot menjadi metafora cinta yang tanpa pamrih, sekaligus kritik atas kelalaian manusia yang sering lupa bahwa cinta terbesar justru datang dari dalam dirinya sendiri.
Dari perspektif sastra, pencapaian tertinggi puisi ini adalah kemampuannya menyatukan fakta ilmiah dengan pengalaman liris tanpa mengorbankan keduanya. Ia tak terjebak dalam jargon biologi yang kering, juga tak hanyut dalam romantisme kosong. Setiap baris adalah bukti bahwa puisi bisa menjadi ruang dialog antara sains dan humaniora—sebuah jembatan yang sangat diperlukan di zaman ketika kita begitu piawai mengukur tubuh, namun gagal merasakannya.
Penulis :Zuhdi Amin
