Ad Sastrapantura
Scroll untuk Lanjut Membaca

Langit Gresik Menjadi Kanvas Ketika Kaligrafi dan Layang-Layang Menari dalam Harmoni Spiritual

Materi melukis media layang-layang/Zuhdi/Sastrapantura

SASTRAPANTURA, GRESIK-Angin Kamis pagi di Desa Bejan Siwalan berbisik lembut, membelai hamparan halaman Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatus Sa'adah yang berubah menjadi lautan kreativitas. Puluhan layang-layang putih meregang siap dijamah tangan-tangan mungil, sementara kuas dan tinta hitam berjejak di atas kertas kaligrafi. Ini bukan sekadar lomba. Ini adalah perayaan ketika seni menulis ayat suci bertemu tradisi bermain anak desa, menyatu dalam satu gerak yang tak biasa.

TASA KOMPETITION 2026 hadir sebagai ruang dialog antara langit dan tanah, antara yang sakral dan yang riang. Seratus peserta dari berbagai SDN dan MI se-Gresik dan Lamongan berkumpul bukan untuk sekadar menang, melainkan menitipkan makna pada dua media yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Di tangan mereka, layang-layang bukan lagi mainan musim kemarau, melainkan kanvas terbang yang membawa doa.

Menggores Ayat di Atas Angin: Lomba Kaligrafi yang Tak Biasa

Suasana khusyuk menyelimuti meja-meja panjang yang berjejer di sisi timur halaman. Anak-anak berseragam merah putih dan biru putih duduk tenang, menusukkan pena khat ke permukaan kertas. Jari-jari mereka menari mengikuti irama hati, menciptakan komposisi huruf Arab yang memancarkan keindahan. "Saya ingin menulis lafal Asmaul Husnah dengan bentuk burung," ucap Najwa, peserta dari salah satu sekolah yang hadir, matanya berbinar.

Di sudut lain, seorang juri duduk dengan pandangan tajam namun teduh. Bapak Ahmad Dzawil, kaligrafer yang namanya telah melanglang buana di dunia seni rupa, mengamati setiap goresan. Beliau tak hanya menilai teknik, tetapi juga mencari getaran jiwa dalam setiap lengkungan huruf. "Kaligrafi itu bukan tentang seberapa sempurna bentuknya, tetapi seberapa dalam ia menggetarkan hati yang memandang," ungkapnya saat menyisir satu per satu karya peserta.

Sementara itu, Mas Ainun Najib, seniman rupa asli Gresik, tak henti mengangguk kagum. Ia menemukan keberanian luar biasa pada anak-anak yang dengan lugu memadukan tradisi Timur Tengah dan estetika lokal. "Ini lompatan besar. Biasanya melukis hanya di atas kertas atau kanvas, hari-hari ini mereka diajak berpikir bahwa seni tak boleh dibatasi medium," tuturnya di sela-sela penjurian.

Peserta kaligrafi diberikan kebebasan mengekspresikan bentuk huruf tanpa meninggalkan kaidah. Hasilnya pun beragam: ada yang menggubah lafal asmaul Husnah menyerupai perahu pinisi, tak sedikit pula yang merangkai dalam komposisi menyerupai cakra. Kertas-kertas itu tak lagi diam; mereka berbicara dalam bahasa sunyi.

Lukisan di Atas Kertas Terbang: Inovasi yang Membumi di Layang-Layang

Belum pernah sebelumnya Gresik menyaksikan peristiwa seperti ini. Anak-anak dengan celemek warna-warni duduk bersila, meletakkan layang-layang polos di pangkuan. Cat akrilik, kuas kecil, dan palet sederhana menjadi senjata mereka. Tidak ada batasan tema, tidak ada kungkungan pakem. "Saya melukis bunga dan dedaunan dengan latar pelangi, nanti kalau layang-layang ini terbang, kupu-kupunyapun ikut terbang ke langit," ujar Emir, siswi MI Tasa, dengan polosnya.

Para pemenang kaligrafi/Zuhdi/Sastrapantura

Antusiasme peserta begitu deras. Beberapa anak bahkan membawa sketsa dari rumah, hasil riset kecil-kecilan tentang motif layang-layang tradisional. Namun yang paling mencuri perhatian adalah ketika mereka mulai melukis wajah tokoh idola, pemandangan desa, hingga ilustrasi kisah nabi. Layang-layang itu menjelma menjadi kanvas yang tak biasa, dan angin kelak akan menjadi galeri berjalan.

"Ini pertama kalinya saya melihat lomba melukis di atas layang-layang. Ide yang sangat sederhana tetapi menyimpan kedalaman makna. Bahwa kesenian bisa naik ke angkasa dan dinikmati siapa saja tanpa sekat galeri," papar Mas Ainun Najib, suaranya bergetar haru.

Para guru pendamping pun tak kuasa menahan senyum. Mereka melihat anak didiknya begitu tenggelam dalam warna dan imajinasi. Ketika waktu hampir habis, puluhan layang-layang sudah bersolek indah. Beberapa di antaranya dijemur di bawah terik, menanti angin yang akan membawanya terbang. Di sinilah seni bukan lagi benda mati, melainkan makhluk yang siap hidup di udara.

Penerimaan penghargaan oleh juri/Zuhdi/Sastrapantura

Upacara Penghargaan: Ketika Langit Memberi Restu

Menjelang pukul satu siang, matahari tepat di atas ubun-ubun. Halaman madrasah yang tadi sunyi berubah riuh rendah. Para peserta berjejer rapi, layang-layang karya mereka berkibar-kibar dipegang erat. Bapak Abdul Majid S. HI, Kepala Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatus Sa'adah, berdiri di mimbar sederhana. Beliau tak banyak bicara, hanya tersenyum melihat wajah-wajah lelah namun puas.

Pembagian kejuaraan menjadi puncak yang mengharukan. Bapak Ahmad Dzawil dan Mas Ainun Najib bergantian memanggil nama-nama pemenang. Ada yang menangis bahagia, ada pula yang bertepuk tangan riuh. Namun lebih dari sekadar piala, semua peserta pulang dengan satu kesadaran baru. "Kami tidak menyangka kegiatan sederhana bisa semeriah ini. Anak-anak belajar bahwa seni itu tidak harus mahal dan rumit. Cukup dari layang-layang dan cat seadanya, mereka bisa menciptakan keindahan," imbuh Zuhdi Amin, seksi acara penyelenggara.

Seorang peserta laki-laki dari salahsatu peserta mendekati dewan juri. Layang-layangnya tak menang, namun ia ingin berpamitan. "Saya senang meskipun tidak juara. Nanti di rumah saya akan mengajari adik melukis layang-layang juga," pungkasnya dengan senyum lebar.

Maka berakhirlah TASA KOMPETITION 2026, meninggalkan jejak di hati seratus anak yang hari itu belajar bahwa berkah tak selalu turun dari langit ia juga bisa naik, bersama layang-layang yang membawa doa dan lukisan.

Penulis : Zuhdi Amin

Baca Juga
Posting Komentar